BERANI KARENA BENAR

climbing-mountain-default-ice
Renungan Mingguan

2 Tawarikh 22:10-23:21

Kapan Anda terakhir kali melakukan hal yang benar, yang membutuhkan keberanian besar melakukannya, dengan resiko yang Anda sadari akan sedemikian besar berdampak bagi diri Anda sendiri? Dalam hidup, seringkali Tuhan mengizinkan kita berada dalam situasi-situasi tertentu, dimana keberanian untuk bertindak, sangat dibutuhkan.

Ahazia yang jahat telah menemui kematiannya di tangan Yehu, cucu Nimsi (22:9). Sepeninggalnya, tidak ada dari anak-anaknya yang sanggup memerintah sehingga membuat  Ibunya, Atalya, mengambil alih pemerintahan setelah membinasakan seluruh keturunan raja dari kaum Yehuda (22:9-10). Akan tetapi Yoas, anak bungsu raja Ahazia, berhasil lolos dari tragedi tersebut berkat pertolongan saudara perempuannya. Oleh Yosabat. sang kakak, Yoas disembunyikan di rumah Allah selama enam tahun lamanya dibawah pengawasan imam Yoyada.

Adapun Yoyada, paham apa yang tengah terjadi dalam Kerajaan Yehuda, yakni bahwasanya Atalya, nenek dari Yoas tersebut, tidak berhak sama sekali atas tampuk pemerintahan yang ada. Yoyada menunggu saat yang tepat untuk melakukan sesuatu hal yang benar, yakni melantik Yoas menjadi raja atas Yehuda. Ini tentu saja bukan tanpa resiko, mengingat Atalya adalah seorang yang bengis dan kejam. Ia menghadapi resiko dicopot dari jabatannya sebagai imam, hingga resiko kehilangan nyawanya dan seluruh anggota keluarganya. Sungguh mengerikan.

Dinamika kehidupan tidak selalu berjalan mulus. Pada saat semuanya baik dan lancar, kita tidak pernah akan menemukan kesulitan untuk mengambil keputusan-keputusan yang baik dan benar. Namun apabila sesuatu kemudian terjadi dan kita dihadapkan pada kondisi dan situasi yang sulit, saat itulah ketangguhan iman dan keberanian kita diuji. Mari meneladani imam Yoyada. Bertindaklah apabila Anda yakin bahwa apa yang Anda lakukan adalah benar. Tuhan pasti menyertai dan membela Anda.

RENUNGKAN: Iman akan tampak melalui keputusan dan tindakan kita pada saat kita harus memilih untuk sesuatu yang benar dan penuh resiko. Iman tidak mencari aman sendiri.

(oleh: Pdt. Sadikun Lie, MA., M.Th.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s