PEMIMPIN YANG TAKUT AKAN ALLAH

identity 1
Renungan Mingguan

2 Tawarikh 29:1-36 (Edisi PASKAH 2013)

Keberadaan seorang pemimpin sangat mempengaruhi kehidupan orang-orang yang dia pimpin. Setelah dipimpin oleh raja Ahas, yang hidupnya tidak menyenangkan hati Allah, Yehuda kemudian dipimpin oleh Hizkia, yang hidupnya berbeda jauh dibandingkan dengan hidup ayahnya, Ahas. Hizkia hidup dengan menyenangkan hati Tuhan.

Berbeda dengan Ahas, kita dapat melihat kasih Hizkia kepada Allah melalui perhatiannya pada bait Allah. Ahas telah menutup Bait Allah (6-7) dan mendirikan pusat penyembahan kapada Allah lain di tanah itu (28:24-25). Namun Hizkia membuka kembali Bait itu dan memperbaikinya agar bisa digunakan sebagai mana mestinya (3-5). Sebagai raja, ia ingin bangsanya kembali kepada Allah (10). Maka hal berikutnya yang dia lakukan adalah memerintahkan kaum Lewi untuk melakukan pentahiran bait Allah, termasuk perkakas yang dibuang pada masa pemerintahan Raja Ahas (11-18). Lalu ibadah pun dimulai. Korban bakaran dipersembahkan diatas mezbah (24) dan puji-pujian bagi Tuhan dilantunkan (29-30). Semua rakyat bersukacita atas apa yang terjadi saat itu (36).

Sungguh besar pengaruh Raja Hizkia sehingga terjadi pengaruh radikal dalam kehidupan rakyat. Bila sebelumnya rakyat berbalik dari Allah, kini rakyat kembali kepada Allah. Rakyat serta para pemimpin kota, para iman dan kaum Lewi, semuanya bergerak seiring dengan pembaharuan yang Hizkia sedang kerjakan.
Kita tentu senag bla memiliki pemimpin yang memiliki visi dan misi yang jelas. Visi dan misi yang mengarah pada suatu perubahan yang membawa pembaruan. Pembaruan untuk meninggalkan keterpurukan iman, untuk mencelikkan mata hati yang buta, yang mendorong hati untuk terbuka pada kasih dan karya Allah. Kita perlu berdoa agar bangkit pemimpin-pemimpin yang demikian di lingkungan gereja dan masyarakat kita. Kita pun perlu mempersiapkan orang-orang muda agar suatu saat kelak mereka menjadi pemimpin, yang bukan hanya ingin dihormati, tetapi yang melayani.

RENUNGKAN: Pemimpin sangat sentral dalam kehidupan berjemaat, untuk itu kita butuh pemimpin yang menjadi teladan dalam melayani dan bukan pemimpin yang minta dilayani.

(oleh: Pdt. Sadikun Lie, MA., M.Th.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s