HUKUMAN AKIBAT DOSA

law_scale_background.362150542_std

Renungan Mingguan

2 Tawarikh 36:1-23

Raja demi raja silih berganti memerintah Yehuda. Mulai dari raja yang tiada peduli kepada Tuhan sampai raja yang melakukan reformasi untuk mengembalikan rakyat pada ibadah yang benar kepada Allah. Namun kisah raja yang benar ternyata berakhir pada Yosia, karena raja-raja yang bertakhta sesudah dia memiliki kisah hidup berbeda.
Setelah mengalahkan Yosia di peperangan, Mesir mendominasi Yehuda. Maka meski rakyat ingin Yoahas yang jadi raja, karena dia anak Yosia, tetapi Nekho mengangkat Elyakim, saudara Yoahas. Yoahas sendiri ditawan ke Mesir.
Elyakim, yang berubah nama menjadi Yoyakim, juga memerintah tak sesuai dengan kehendak Tuhan. Lalu allah memakai Babel untuk menindak Elyakim dan menawan dia ke Babel. Bahkan beberapa perkakas Bait Allah juga dibawa ke Babel. Ini menunjukan penghinaan Babel atas Yehuda.
Yoyakim yang menjadi raja menggantikan Ayahnya, juga tak berbeda. Ia jahat dimata Tuhan hingga dideportasi ke Babel. kemudian Yehuda makin surut dan barang-barang Bait Allah diambil oleh Babel.
Dalam zaman Zedekia, kehancuran Yehuda makin nyata. Ia memberontak terhadap Babel dan Allah (12-13).
Berulang-ulang Allah ingin menyatakan firmanNya, tetapi berulang-ulang pula Yehuda menolak (14-16). Dalam gemasnya, Allah memakai orang Kasdim untuk menghukum mereka (17).
Namun kasih Allah tak berkesudahan. Sesudah genap masa penghukuman, ia kembali menyatakan kasih karuniaNya atas umat. Tuhan memakai Koresh, raja Persia, untuk memulangkan umat (22-23).
Akhir kitab Tawarikh bukan memperlihatkan kegagalan manusia, melainkan kesetiaan dan kuasa Allah. Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk bergantung pada Allah saat kita harus menghadapi penguasa-penguasa dunia yang berusaha menunjukan dominasinya atas kita. Ingatlah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Ia berkuasa melakukian segala sesuatu untuk menyatakan kasih setiaNya atas kita.

RENUNGKAN: Bersyukur bahwa kita memiliki Allah yang penuh kasih setia, sehingga walau kita kerap kali tidak setia, namun dengan kasih setiaNya ia tetap menantikan pertobatan kita.

(oleh: Pdt. Sadikun Lie, MA., M.Th.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s