JANGAN SAMPAI DIHUKUM

Law1

Renungan Mingguan

Ratapan 1

“Ah….” sebuah kata yang menandakan penyesalan membuka kitab ini dan memberi petunjuk tentang bagaimana seharusnya kita memahami kitab ini. Didalam pasal 1 ada lima kali frase “keluh kesah” (atau secara harafiah “erangan, mengerang”) digunakan (4, 8, 11, 21, 22). sungguh tragis, ratu yang dulunya begitu terhormat (bnd. Yer. 2:2) kemudian jadi orang yang terbuang hina (kata “jajahan” di ayat 1 secara harafiah bisa diartikan sebagai budak/ pekerja rodi).

Seluruh pasal 1 menggambarkan kondisi Israel yang dihukum Tuhan dengan tidak tanggung-tanggung. Ia bukan sekedar menelantarkan kondisi yang sudah baik, tetapi menunggangbalikan setiap tatanan yang ada dan mengorek kehormatan israel sampai ke akar-akarnya sebagaimana digambarkan dalam ayat 5, mereka yang dulu adalah musuh kini berkuasa atas Israel. Karena dosa Israel yang mengabaikan Tuhan dan tidak menghiraukan kekudusanNya maka Tuhan menyerahkan Israel ke dalam aib yang memalukan.
Bangsa yang hidup dalam kekudusan semu, dengan nabi-nabi dan imam-iman yang bertindak sesuka hati, kini mendapati diri mereka didalam kubangan kenajisan yang melekat pada diri mereka begitu rupa sehingga akal budi mereka pun tak kuasa menanggungnya (9). Beban itu begitu berat, seakan tak ada harapan atau masa depan bagi mereka.
Separuh dari pasal pertama (1-11) dituliskan oleh Yeremia dari sudut pandangnya sendiri sebagai orang pertama. Lalu bagian kedua (12-22) ditulis dengan personafikasi Yerusalem sebagai “aku”. Api yang dikirim Tuhan hingga kedalam tulang (13), kekuatan yang dihisap habis hingga melumpuhkan (14), dan kebinasaan yang ditimpakan kepada para pemimpin (19), mengingatkan kita bahwa ketika Tuhan memilih kita untuk menjadi umatNya, kita dituntut untuk hidup menurut standar Tuhan. Jika kita bermain mata dengan ketidakbenaran dan hidup dalam kekudusan semu, Ratapan 1 memperingatkan kita bahwa Dia tidak akan segan-segan menghajar kita demi kebaikan kita sendiri. (Band. Ibrani 12:10, Wahyu 3:19).

RENUNGKAN: Ketidaktaatan akan selalu menghasilkan hukuman.

(oleh: Pdt. Sadikun Lie, MA., M.Th.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s