SAAT HARAPAN TAK TAMPAK

33372003.SunBehindCloud[1]

Renungan Mingguan

Ratapan 3:40-66

Pada potongan pertama dari Kitab Ratapan 3 ini, Yeremia menjelajahi kelamnya penderitaan, dilanjutkan dengan secercah harapan yang dijumpainya pada potongan kedua. Potongan ketiga, yang kita baca hari ini, diawali dengan kalimat yang membantu kita untuk membingkai ayat-ayat selanjutnya, “Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita” (40). Ini menjembatani perenungan kita dari potongan kedua.

Di ayat 40-48 Yeremia meletakan hasil refleksinya (bnd. ayat 39) dalam konteks penderitaan yang tengah dia dan bangsanya alami. Kembali ke kenyataan hidupnya, Yeremia menyadari bahwa bangsa Israel memang layak mendapat hukuman dari Tuhan (42-45). Ia juga menyadari bahwa bangsa-bangsa yang Tuhan pakai untuk mendatangkan penghukuman kepada Israel begitu menikmati “tugas” yang Tuhan berikan untuk menghukum Israel sehingga mereka bertindak sangat kejam (52 dst.). Ini mengakibatkan penderitaan yang begitu memilukan, terutama bagi para perempuan dan anak-anak kecil.
Melalui seluruh rangkaian Ratapan 3, kita melihat melalui kacamata Yeremia bagaimana orang yang benar tidak serta merta dikecualikan dari penderitaan dan kesusahan yang terjadi di sekelilingnya. Ia tetap adalah bagian dari masyarakatnya. Justru dengan menjadi bagian masyarakatnya, iman orang yang benar memberikan sensitivitas untuk melihat dosa dan kesalahannya serta bangsanya secara realistis di hadapan Allah. Dari situ, iman orang benar memampukan dia kembali bangkit dan memimpin masyarakatnya untuk kebali hidup lurus di hadapan Tuhan.
Mulai ayat 58, Yeremia menutup pasal 3 dengan permohonan. Bagai pengacara yang menutup uraian pembelaanya, Yeremia menyerahkan kasusnya kepada Tuhan sebagai Hakim agar Tuhan kembali bertindak menegakan keadilan dan menjalankan pembalasan. Iman Yeremia memampukan dia untuk memahami realita kehidupan dari kacamata Tuhan dan kerap, bahkan di saat tak tampak harapan.

RENUNGKAN: Di saat tekanan dan kepahitan hidup menekan kita, marilah kita tetap sadar bahwa ini adalah proses Tuhan untuk membawa kita kepada pengharapan yang teguh.

(oleh: Pdt. Sadikun Lie, MA., M.Th.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s