SEKARANG, BUKAN NANTI!

prayer_3

Renungan Mingguan

Lukas 13:1-9

Musibah seyogyanya menghasilakan rasa iba. Namun tidak selalu demikian. Musibah bisa saja menghasilkan prasangka buruk. Bagi orang Yahudi, musibah yang menimpa seseorang erat hubungannya dangan dosa-dosanya. Makin besar dosa seseorang semakin hebat pula musibah yang akan menimpa dia. Jadi, musibah seolah semacam hukuman yang diberikan oleh Allah, tergantung seberapa besar dosa-dosa yang telah diperbuat seeseorang. Prasangka buruk seperti inilah yang hendak diluruskan oleh Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus menegaskan bahwa prasangka seperti itu bukan saja sempit, tetapi mutlak salah. Jenis atau bentuk musibah bukanlah cerminan besar atau kecilnya dosa seseorang. Sebaliknya, Tuhan Yesus mengajak mereka yang tidak kena musibah untuk menilik diri sendiri. Sebab dihadapan Tuhan yang kudus, orang-orang yang tak kena musibah pun sebenarnya orang berdosa juga dan berpotensi mengalami penghukuman yang sama (3,5). Musibah yang menimpa seseorang bisa dijadikan peringatan bagi mereka yang terluput, agar tidak mengeraskan hati dan tetap tinggal dalam keberdosaan tersebut. Maka yang terpenting bukanlah membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang yang mengalami musibah, tetapi meresponnya dengan memeriksa diri dan dapat segera bertobat. Gunakanlah kesempatan yang masih ada untuk segera bertobat karena belum tentu kesempatan itu terulang.

Pikirkanlah kesempatan terakhir yang diberikan kepada pohon ara (9). Itulah lukisan yang tepat mengenai kesempatan yang diberikan Allah kepada  manusia untuk segera bertobat. Seluruh waktu yang masih diberikan sesungguhnya merupakan kesempatan yang terakhir, tidak akan ditambah lagi! Ini adalah demonstrasi kesabaran Allah yang paling akhir. Setelah itu pintu kesempatan akan ditutup selama-lamanya. Oleh karena itu, jangan tunda! Saat Roh Kudus menegur kita lewat musibah orang lain, jangan keraskan hati melainkan responlah kesabaran hatiNya dengan bertobat, sekarang dan bukan nanti.

RENUNGKAN: Setiap musibah yang terjadi sebenarnya adalah sebuah kesempatan bagi kita untuk mawas diri, dan tidak lalai untuk melakukan Firman Allah dan takut pada Tuhan.

(oleh: Pdt. Sadikun Lie, MA., M.Th.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s