RELA BERBAGI

kids-sharing

Renungan Mingguan

Lukas 16:19-31

Setiap insan di dunia ini pasti punya cita-cita hidup bahagia di bumi, lantas timbul sensasi untuk memiliki sesuatu kehidupan yang ideal, yaitu kecil bahagia, muda foya-foya, tua kaya raya serta mati masuk surga. Inilah kira-kira yang sedang menjadi idaman dan perjuangan orang kaya yang kita baca dalam Alkitab hari ini. Ia tidak pernah sadar bahwa harta bukanlah kunci kebahagiaan, dan kekayaan bukanlah modal untuk meraih hidup kekal di surga. Sangat disayangkan bahwa justru hal ini baru disadari ketika ia sudah berada di tempat penderitaan kekal. Sewaktu hidup dalam kemewahan ia tidak pernah ingat kepada saudara, sudah terlambat baru ia ingat dan meminta Abraham untuk menyadarkan kelima saudaranya yang masih hidup.

Penyebab orang kaya ini tidak masuk surga (23) adalah pola hidupnya, bahwa ia tiada hari tanpa pesta (19), sementara ada orang miskin disekitarnya yang perlu dibantu, namun terluput dari perhatiannya. Ia tega melihat Lazarus yang miskin hidup dalam sakit dan menderita kelaparan, sambil menantikan dan mengharapkan sisa makanan yang jatuh dari meja si orang kaya untuk dimakan (21-22). Suatu sikap masa bodoh dan kejam tanpa peri kemanusiaan.
Akhirnya segalanya berubah, Lazarus meninggal dan dibawa oleh malaikat ke pangkuan Bapa Abraham (22), dan orang kaya ini juga meninggal dan mengalami derita di dalam maut (23) dan terus berseru memohon belas kasihan dari Bapa Abraham dan Lazarus.
Cerita ini tidak berarti bahwa TUhan tidak senang kepada orang kaya dan berpihak kepada orang miskin, tetapi cerita ini menyoroti tentang bagaimana kita menggunakan kekayaan yang adalah titipan Tuhan untuk kita kelola dengan penuh tanggung jawab. Orang ini tidak pernah peduli dengan kebutuhan orang lain, ia hanya mencari kesenangan bagi dirinya sendiri, seharusnya sebagai orang yang dikaruniai lebih ia dapat memberdayakan orang yang membutuhkannya, sebaliknya kalau orang menjadi miskin karena kemalasannya atau gaya hidupnya yang tidak benar, inipun tidak berkenan bagi Allah. Untuk itulah kita harus belajar bagaimana menjaga keseimbangan dalam hidup ini agar kita dapt memuliakan Allah dan menjadi saluran berkat Allah bagi sesama kita yang membutuhkan.

RENUNGKAN: Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga harus memperhatikan orang lain juga. Belajarlah peduli kepada lingkungan!

(oleh: Pdt. Sadikun Lie, MA., M.Th.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s