TERIKAT PADA KEKAYAAN

rich

Renungan Mingguan

Lukas 18:18-30

Seorang pemimpin yang rohani dan sangat kaya datang kepada Yesus, bersaksi bahwa sejak muda ia telah menjalankan hukum Taurat. Namun Yesus mengatakan bahwa ia sulit masuk Kerajaan Surga, dan ini selaras dengan keyakinan Paulus pada waktu ia belum lahir baru dalam Filipi 3:6. “tentang kegiatan aku penganiaya Jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat”. Mereka hanya melakukan hukum Taurat dari luarnya saja tanpa memahami esensinya, buktinya ia tidak dapat memenuhi permintaan Yesus untuk melepaskan harta demi mengasihi sesama. Ini menggenapi apa kata Tuhan Yesus dalam Lukas 12:34, yaitu: dimana hartamu berada disitu pula hatimu berada. Pemimpin yang kaya ini melakukan hukum Taurat dari sudut pandang dan kebenarannya sendiri, bukan sebagai kehendak Allah. Ia begitu yakin dan percaya diri dengan kekayaan yang dia miliki sebagai sarana untuk mendapat apa yang ia inginkan termasuk untuk beroleh hidup yang kekal. Bagaimana dengan kita, bukankah kita sering berpikir bahwa kekayaan adalah segalanya dalam hidup ini?
Melakukan hukum Taurat berarti melakukan kehendak Allah, untuk itu harus kita lakukan sebagai wujud kasih kepada Allah dan sesama manusia, bukan suatu kebanggaan diri apalagi memamerkan kemampuan diri dalam menjalankan ibadah agama. Sebenarnya pemimpin ini telah gagal dalam memahami dan menghayati nilai-nilai hukum Taurat dan arti ibadah.
Disisi lain, ada Petrus yang mewakili para murid merasa sudah berkorban bagi Yesus, dengan mengikut Dia dan menanyakan imbalannya. Yesus mengajarkan bahwa untuk mengikut Dia, kita tidak perlu kuatir akan kehilangan apapun, dan justru akan memperoleh kembali berlipat kali ganda saat ini dan memperoleh hidup yang kekal pada masa yang akan datang. Mereka harus bergantung sepenuhnya kepada kasih karuniaNya yang akan memenuhi segala kebutuhan kita, dan jangan terikat kepada kekayaan dunia. Apa yang akan kita peroleh akan melampaui apa yang telah kita tinggalkan, yaitu rasa puas dan cukup serta sukacita yang besar didalam Tuhan, dan mengingat bahwa sepanjang kita mencari kekayaan dunia, semakin kita merasa kurang sampai akhirnya kita terhanyut dan hilang dalam arus dunia yang membawa kita kepada kebinasaan.

RENUNGKAN: Ada konsekuensi dalam mengikut Yesus, melepaskan diri dari segala ikatan kekayaan dunia, dan berinvestasi dalam kekekalan di surga yang mulia untuk menyembahNya.

(oleh: Pdt. Sadikun Lie, MA., M.Th.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s