HIDUP KUDUS

Yerusalem

Renungan Mingguan

Lukas 19:41-48

Ketika ada orang yang kita kasihi sedang terancam dan menghadapi stuasi yang membahayakan dirinya, kita pasti akan bertindak untuk melindungi dan menyelamatkannya. Ada kalanya kita akan memberikan teguran dan nasehat agar yang bersangkutan luput dan terhindar dari malapetaka. Bila responnya negatif, dan tetap pada posisinya, maka kita dapat berdoa agar Tuhan sendiri yang akan menyadarkan dan mengingatkan kekeliruannya. Hal yang sama dilakukan oleh Tuhan Yesus ketika memasuki Yerusalem, Ia tahu betapa jahat dan bebalnya perilaku penduduk Yerusalem. Sampai-sampai Bait Allah dipakai sebagai pasar dan bahkan dijadikan sarang penyamun (tempat berkumpulnya para penjahat). Sementara Bait Allah seharusnya adalah tempat yang kudus, tempat dimana orang berjumpa dengan Allah untuk mempersembahkan korban yang harum dan berkenan kepada Allah. Inilah yang membuat Yesus menangisi Kota Yerusalem (41). Dampak dari tindakan ini, Yerusalem yang merupakan pusat penyembahan kepada Allah kehilangan damai sejahtera, dan musuh datang menghancurkan tembok kota ini, termasuk Bait Allah yang ada didalamnya. Padahal telah ribuan tahun Tuhan mengutus nabi-nabiNya untuk mengingatkan, tetapi mereka mengeraskan hati dan tidak pedulikan. Inilah gambaran ketidakpercayaan Yerusalem

Yesus sendiri memasuki Yerusalem untuk memperingatkan dan mereka tetap tidak peduli dan tidak menghiraukan, bahkan mereka menghina dan menyalibkan Yesus, Sang Mesias yang sebenarnya begitu mereka nantikan. Untuk itu Yesus menubuatkan apa yang akan terjadi terhadap Yerusalem pada masa yang akan datang (43-44). Yesus pun menyempatkan diri untuk mendatangi Bait Allah, sebagaimana menjadi agenda disetiap perjalananNya. Bait Allah yang seharusnya kudus telah dicemarkan oleh praktek keserakahan dan tipu daya para pemimpin agama. Yesus melakukan tindakan membersihkan Bait Allah dari praktek mencari keuntungan materi. Yesus ingin mengajar bahwa kekudusan Allah jangan dicemarkan oleh praktek dagang dengan kedok religiositas, hal ini tentu membawa Yesus pada posisi yang berbahaya, dimana para pemimpin agama Yahudi merasa terusik dan semakin memantapkan niat untuk melenyapkan Yesus. Inilah konsekuensi kebenaran. Jangan pernah kita jual kebenaran demi keuntungan materi. Justru kuduskan praktek bisnis kita dengan melakukan kebenaran. Jangan meremehkan kekudusan Allah dalam setiap aspek hidup kita. Utamakan Tuhan diatas segalanya, maka kita tidak akan dirugikan dsn dipermalukan olehNya.

RENUNGKAN: Jagalah kekudusan hidup kita, sebab kekudusan adalah jalan menuju kepada Allah yang kudus. Tanpa kekudusan, kita tidak dapat diperkenan oleh Allah.

(oleh: Pdt. Sadikun Lie, MA., M.Th.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s