AGAMA PENCITRAAN

sea indonesia

Renungan Mingguan

Lukas 20:45-47

Hari-hari ini kita sedang hidup dalam era pencitraan atau penampilan, sebab orang sering hanya menilai dari penampilan luar atau kemasan. Yang penting dikemas dengan bagus, soal isi masalah lain dan inilah yang membuat orang sering menjadi kecewa karena antara isi dan kemasan berbanding terbalik. Pencitraan kerapkali mengabaikan mutu dan kualitas. Kalau ini menyangkut seoarang tokoh, maka pencitraan sering berbeda dengan karakter asli dari yang bersangkutan. Harusnya kita tidak hanya sekedar tampil.

Ahli Taurat adalah orang-orang yang memiliki jabatan dan kedudukan penting di dalam masyarakat, karena mereka adalah orang yang mengerti hukum Taurat dan sebagai pengajar yang seharusnya berkarakter seperti apa yang diajarkannya. Kenyataan mereka adalah para penentang Yesus dan FirmanNya. Untuk itu Yesus Menasihatkan para murid mewaspadai mereka. Mereka telah lama mengikuti Yesus, tetapi tidak ada perubahan sama sekali.
Para ahli Taurat ini hanya mempertahankan pencitraan diri mereka sebagai tokoh agama, dengan ciri-ciri yang digambarkan oleh Tuhan Yesus, yaitu suka berjalan memakai jubah panjang, suka menerima penghormatan di pasar, suka duduk ditempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjaamuan, menelan rumah janda-janda, serta mengelabui orang dengan doa yang panjang-panjang (46-47). Mereka juga meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang dan membangun makam nabi (Lukas 11:46-47). Sangat tidak etis, bila kita hanya mengutamakan penampilan yang bagus, tetapi menyesatkan, merekayasa kehidupan beragama untuk menipu dan mendapatkan untung. Utamakanlah ketulusan dalam kehidupan supaya kita menjaga keseimbangan antara isi dan kemasan, penampilan yang baik harus diikuti dengan bobot dan isi yang memadai. Sebab pada akhirnya semua akan tersingkap, karena sebenarnya hidup kita terbuka di hadapan Allah dan manusia. Apa yang tampak keluar harus mencerminkan yang di dalam.

RENUNGKAN: Orang percaya harus berani tampil apa adanya, dan tidak perlu tampil beda.

(oleh: Pdt. Sadikun Lie, MA., M.Th.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s