SEGALA SESUATU

earth

Renungan Mingguan

Pengkhotbah 1

Setelah merenungkan secara mendalam kehidupan manusia di bumi ini, didasarkan pada berbagai peristiwa yang diamatidan dialami (14). Penghotbah mengambil suatu kesimpulan yang tidak lazim dan bahkan mengejutkan, yaitu: Semuanya sia-sia. Istilah yang digunakan ialah “menjaring angin”. Dengan kata lain Pengkhotbah melihat segala sesuatu itu “hampa”, “tidak punya bobot” seperti halnya angin. Dalam ayat 2, Pengkhotbah menyebutkan istilah “kesia-siaan belaka” seolah-olah hidup ini tidak berarti dan tidak jelas. Kita dilahirkan, lalu hidup diwarnai berbagai pergolakan, pergumulan, beban berat sampai akhirnya mati. Hari lepas hari kita lewati dan terkadang kita menjadi jenuh, semua hanya terulang tanpa makna, dan hanya duatu rutinitas.
Apakah benar bahwa hidup kita sia-sia? Hidup kita akan jadi sia-sia, jika orientasi atau tujuan hidup kita hanya materi semata. Sebab segala sesuatu yang kita miliki, yang kita suka, yang kita bangga-banggakan, yang kita agungkan, yang kita kejar-kejar dan kita pertahankan, ini semua akan menjadi tanpa makna kalau kita tidak hidup dalam Tuhan Yesus. Bukan saja rutinitas yang membuat kita jenuh, letih, lesu, dan berbeban berat, tetapi semua kerja keras, kekayaan serta hikmat yang kita miliki pun tidak mampu memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan, diluar Yesus Kristus. Banyak orang hidup terperangkap dalam kehidupan ini, sehingga tidak mengingat hal-hal yang utama dan terutama dalam hidup. Bukankah yang terutama dalam hidup kita adalah memuliakan Allah? Sebab hanya dekat Allah saja kita tenang dan hanya dalam bersekutu dengan allah kita dapat menikmati hidup ini sebagai suatu anugerah, dan kita dapat bersyukur.
Pengkhotbah tidak sedang berputus asa dan meremehkan hidup yang Allah karuniakan kepadanya. Tetapi Sang Pengkhotbah sedang mengingatkan kita terhadap kepalsuan dunia ini. Ia sedang berupaya menghancurkan segala pengharapan palsu yang dijanjikan dunia ini, sekaligus menyadarkan kita bahwa segala sesuatu hanya berarti bila kita beriman kepada Allah yang adalah pusat nilai dan sumber kehidupan kita. Kita harus mempu mengerti kehendak dan maksud Tuhan dalam segala aspek kehidupan ini, sehingga kita tidak terbuai dengan rayuan keinginan dunia ini.

RENUNGKAN: Kita tahu bahwa semua kehidupan di dunia ini berasal dari Allah, sehingga kita juga harus belajar untuk hidup sesuai dengan apa tujuan Allah menciptakan kita dan seisi dunia ini.

(oleh: Pdt. Sadikun Lie, MA., M.Th.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s