INDAH PADA WAKTUNYA

time-watch

Renungan Mingguan

Pengkhotbah 3:1-15

Perhatikan ungkapan melalui tulisan artistik khas Ibrani, dimana penulis memilih kata yang berpasangan yang menurutnya masing-masing ada waktunya. Ada tujuh dan tujuh adalah angka yang penting dalam Perjanjian Lama yang kira-kira artinya sempurna atau lengkap. Kita baca dan simak ayat yang masing-masing berisi dua pasang peristiwa yang bertentangan atau bertolak belakang, yaitu: Lahir/meninggal, menanam/mencabut, membunuh/menyembuhkan, merombak/membangun, menangis/tertawa, meratap/menari, membuang batu/mengumpulkan batu, memeluk/menahan diri, mencari/merugi, menyimpan/membuang, merobek/menjahit, berdiam diri/berbicara, mengasihi/membenci, perang/damai. Mengapa semua hal berjalan dengan begitu teratur dan tertib? Karena ada Allah yang mengatur baik kejadian alam maupun hubungan antar manusia dalam satu ritme dan sekaligus menyadarkan kita bahwa segala sesuatu dalam hidup tidak berjalan sendiri, tetapi tertib dalam pengaturan Sang Maha Kuasa, yaitu Allah sendiri.
Kalau kita baca sepintas ayat-ayat dalam nats ini, seolah-olah ada tanda-tanda frustasi dari sang Pengkhotbah, kenapa hidup diatur sedemikian rupa seolah-olah membuat kita tidak dapat bebas menentukan atau memilih. Tetapi kalau kita renungkan lebih dalam, pada kenyataan apapun yang kita pilih pada akhirnya tetap rancangan Allah yang jadi. Jadi kita harus melihat ini semua dari segi yang positif, bahwa hidup yang diatur hanya dapat kita jalani didalam tangan Allah, sehingga kita menikmati hidup yang aman, terpola dan penuh vitalitas dan yang pasti akan membuat hidup kita penuh makna. Jadi dari nada-nada frustasi berhasil memunculkan sukacita dalam sebuah untaian kalimat yang indah: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.” (11).
Kita menjadi mengerti mengapa kita diciptakan oleh Allah segambar atau sepeta dengan Dia, dan mengapa Ia mengaruniakan pengertian, yaitu akal budi dan pengertian melebihi segala makhluk ciptaan yang lain kepada manusia, supaya kita dapat belajar mengerti kehendak Allah dan mengikutinya. Lebih dari itu kita dapat memahami kekekalan yang disiapkan Allah bagi kita, agar kita tidak hidup dalam kehendak sendiri tetapi hidup bagi hormat dan kemuliaan namaNya. Jangan pernah menyesali ketidakberdayaan kita, tetapi bergantunglah penuh kepada Allah, agar kehendakNya jadi senantiasa dalam kehidupan kita, dan bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan.

RENUNGKAN: Segala sesuatu dalam hidup ini ada tangan Tuhan yang menatanya, belajarlah untuk hidup yang disesuaikan dengan rencana dan kehendakNya, pasti semua akan indah pada waktunya.

(oleh: Pdt. Sadikun Lie, MA., M.Th.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s