PERSAHABATAN SEJATI

kids-sharing

Renungan Mingguan

2 Samuel 9:1-13

Peristiwa yang sangat langka kita temukan dalam pembacaan kita minggu ini. Dimana persahabatan Daud dengan Yonatan tidak berakhir sebatas satu generasi, tetapi berlanjut pada generasi berikutnya. Ketika Yonatan sudah tidak ada, Daud mencari keturunannya yang masih ada dan ditemukannyalah anak Yonatan yang bernama Mefibosyet. Ini diluar kebiasaan pada zaman itu, dimana seorang raja yang menang perang justru akan menghabiskan juga semua anggota dan keluarga raja yang dikalahkan. Hal ini untuk mengamankan raja yang menang, sebab bisa saja suatu saat mereka akan memberontak, sehingga mereka dianggap ancaman yang harus dibersihkan demi masa depan kerajaan. Tetapi kita dapat belajar dari Daud, bahwa ia berani melakukan sesuatu yang berbeda. Bagi Daud, menerapkan kasih Allah dan merawat serta melanggengkan kesetiakawanan adalah hal yang jauh lebih utama daripada keinginan untuk berkuasa dan bahkan sekedar mengamankan dan mempertahankan takhta kerajaannya. Kasih inilah yang menjadi dasar persahabatan antara Daud dengan Yonatan. Untuk itu kita harus belajar juga untuk menjalankan persahabatan bukan berdasarkan kepentingan yang ingin kita capai, tetapi pada kasih Allah yang sempurna dan ini yang dapat mengikat kasih persahabatan dan bebas dari kepentingan materi.
Kasih Daud kepada Yonatan bukan hanya sekedar tidak membunuh Mefibosyet, tetapi juga mengembalikan seluruh milik raja Saul dan mengizinkan Mefibosyet makan semeja dengan raja Daud (8). Sesuatu yang luar biasa yang tidak pernah ada yang bahkan membuat Mefibosyet sendiri merasa tidak Layak (7). Inilah yang dapat dilakukan oleh kasih Allah, sesuatu yang tidak layak tetapi dilayakan untuk menerima anugerah yang besar. Bukankah ini yang kita alami juga didalam Kristus? dan bagaimana kita mempraktekan kasih Allah dalam kehidupan kita?. Kasih yang sejati adalah ketulusan dalam mebagikan sesuatu yang istimewa, yang terbaik. Inilah yang telah Yesus Kristus lakukan untuk kita orang-orang berdosa. Kita sangat tidak berlayak, tetapi oleh kasihNya yang begitu besar kepada kita, Ia telah layakan kita. Bukankah kerap kali kita merasa layak dan menganggap wajar menerima kasih, sehingga tidak membalasnya dengan hati bersyukur, seperti pepatah: “air susu dibalas air tuba”? Demikian juga kita sering menganggap orang lain tidak layak menerima kasih dan kebaikan kita? Mari kita mengasihi dengan tulus.

RENUNGKAN: Persahabatan sejati adalah berkat yang terbesar dalam kehidupan persekutuan kita. Sebagaimana Kristus mengasihi kita, demikianlah hendaknya kita mengasihi setiap orang.

(oleh: Pdt. Sadikun Lie, MA., M.Th.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s