PUJILAH TUHAN, HAI JIWAKU.

When-Worship

Renungan Mingguan

Mazmur 103

Ditengah-tengah kemajuan informasi dan teknologi yang begitu pesat dan ditengah hidup yang diwarnai dengan hasrat untuk sukses secara instan, berkembanglah begitu banyak seminar motivasi dan buku-buku self-help yang menekankan seolah-olah kita bisa berhasil tanpa Tuhan. Diajarkan bahwa kemampuan manusia hanya dibatasi kemampuan dirinya, artinya kalau kita yakin kita bisa, maka kita pasti bisa, dan ini mencemari pemberitaan-pemberitaan dalam gereja yang mengajarkan hal yang kurang lebih sama, bahkan ada gereja HYS alias Harus Yakin Sukses. Terlepas dari pro dan kontra, yang jelas memang teologi akhir zaman ini akan diwarnai ataupun didominasi dengan teologi kesuksesan atau teologi kemakmuran yang secara langsung maupun tidak langsung telah meracuni dan melecehkan kerja keras dan semangat pengabdian umat Tuhan, dan sangat tidak memotivasi kehidupan Jemaat. Apakah hidup hanya untuk sukses dan berhasil? Dan bagaimana kita mengartikan hidup yang sukses dan berhasil ini berdasarkan Firman Allah?
Kita harus menilai kesuksesan dari perspektif Alkitab dan dihadapan Allah yang kudus. Mazmur 103 diawali dengan pengagungan kepada Tuhan, bahwa Tuhanlah yang melakukan dan memberikan segala yang baik bagi manusia. Pembacaan di stanza pertama pada ayat 1-5, jelas sekali memaparkan berturut-turut kebaikan Allah, sehingga hasrat manusia hanya dapat dipuaskan dengan kebaikanNya, bahkan masa mudanya diperbaharui “seperti pada burung rajawali.”
Ditengah dunia yang dalam banyak hal telah menyimpang, Tuhan masih tetap berkarya. Dia menjalankan keadilan bagi seluruh alam ciptaanNya. Dia mengayomi umatNya seperti Bapak yang sayang kepada “anak-anakNya.” Sebab Ia ingat bahwa kita ini adalah “debu.” Ini adalah sebuah penyadaran bahwa kita ini tidak ada apa-apanya, dan dibandingkan dengan teori-teori para motivator yang menekankan betapa “hebatnya” manusia itu. Tanpa Tuhan kita adalah nol besar.
Pahami ayat 15-18, ketika kita berhasil kita pasti ingat bahwa ini hanya anugerah Tuhan, sebab kita bukan apa-apa tanpa Tuhan, sehingga kita akan mengembalikan segala kehormatan dan memuliakan Tuhan serta menyaksikan bahwa semua prestasi ini hanya karena kebaikan Tuhan dan akhirnya ayat 20-22 menyatakan dampak kebesaran Tuhan pada segala makhluk dan seluruh alam ciptaanNya. Izinkanlah Allah berkarya dalam seluruh hidup kita, pasti hidup kita akan dijadikan berhasil sehingga kita dapat menjadi alat yang efektif untuk bersaksi bagiNya.

RENUNGKAN: Bukankah Tuhan berjanji akan menjadikan segala yang kita lakukan berhasil? Mari kita belajar bergantung penuh kepada Tuhan dan jangan mengandalkan kekuatan kita sendiri.

(oleh: Pdt. Sadikun Lie, MA., M.Th.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s